ADS

ads

iklan

,

Iklan

iklan

Larangan Kembang Api Tahun Baru 2026 di Banten,Drg Rully sambut baik Ajak Warga Rayakan Pergantian Tahun dengan Doa dan Introspeksi

27 Des 2025, 08:15 WIB Last Updated 2025-12-27T01:15:49Z


Cilegon, ComunitynewsPemerintah Provinsi Banten secara resmi menerbitkan Surat Edaran Nomor 75 Tahun 2025 tentang Larangan Penggunaan Kembang Api dan Petasan dalam Perayaan Tahun Baru 2026. Kebijakan ini dikeluarkan sebagai upaya menjaga ketertiban umum, keselamatan masyarakat, serta menciptakan suasana pergantian tahun yang lebih kondusif dan aman di seluruh wilayah Provinsi Banten.



Dalam surat edaran tersebut, Pemerintah Provinsi Banten menegaskan agar seluruh jajaran pemerintahan daerah, mulai dari Bupati/Wali Kota hingga Camat dan Lurah, melakukan koordinasi aktif dengan unsur TNI dan Polri untuk memperketat pengawasan di lapangan. Langkah ini diharapkan dapat mencegah potensi gangguan keamanan dan risiko kecelakaan yang kerap terjadi akibat penggunaan kembang api dan petasan secara tidak terkendali.



Larangan tersebut tentu menjadi perhatian masyarakat, mengingat perayaan tahun baru selama ini identik dengan pesta meriah, suara petasan, dan pesta kembang api. Namun di tengah kebiasaan tersebut, muncul ajakan untuk memaknai pergantian tahun dengan cara yang lebih bijaksana dan bermakna.



Salah satu ajakan reflektif datang dari drg Rully Kusumawardhany, yang mengajak masyarakat untuk menjadikan momen pergantian tahun sebagai ruang perenungan, bukan sekadar euforia sesaat.



Tahun baru adalah sebuah kata yang sering dimaknai sebagai tahun yang meninggalkan sesuatu yang telah terjadi sebelumnya. Biasanya, sesuatu yang baru itu masih terasa orisinil dan penuh harapan. Banyak orang menaruh angan-angan dan cita-cita pada masa depan, meski semuanya masih berupa rencana dan belum tentu pasti,” ujar drg Rully, Sabtu (27/12/2025).



Menurutnya, harapan yang tumbuh di tahun baru tidak bisa dilepaskan dari proses dan perjalanan hidup yang telah dilalui di tahun-tahun sebelumnya. Masa lalu, kata dia, merupakan titik pangkal yang tidak bisa dihapus, melainkan harus dipahami dan dijadikan pelajaran.



“Untuk mewujudkan angan, cita-cita, dan harapan, pasti ada titik awalnya, yaitu waktu sebelumnya yang kita tinggalkan. Walaupun kita tidak boleh pesimis karena kejadian masa lalu, tetap saja rekam jejak yang sudah terjadi tidak bisa diabaikan,” lanjutnya.



Drg Rully Kusumawardhany,MM menekankan pentingnya renungan mendalam dan introspeksi diri menjelang pergantian tahun. Ia menilai, detik-detik terakhir sebelum tahun berganti merupakan waktu yang tepat untuk berhenti sejenak, menengok ke belakang, dan mengevaluasi perjalanan hidup yang telah dilalui.



“Detik-detik terakhir sebelum waktu bergeser adalah saat yang tepat untuk merenung. Mengingat kembali peristiwa-peristiwa penting yang telah terjadi, melakukan evaluasi, menganalisa, dan mengambil hikmah. Dari situ kita bisa memperbaiki kekurangan, menambal celah-celah yang berpotensi bahaya atau negatif, serta menyusun perencanaan yang lebih baik ke depan,” paparnya.



Lebih jauh, ia menegaskan bahwa proses introspeksi tersebut penting agar setiap individu menjadi pribadi yang lebih mawas diri, berani mengakui kekurangan, dan terus belajar memperbaiki diri.



“Ini perlu dilakukan supaya kita sadar bahwa umur terus bertambah, baik umur personal maupun umur bumi ini. Kita harus lebih bijaksana, meningkatkan konsolidasi internal dan eksternal, serta menyadari bahwa hidup tidak bisa dijalani dengan gegabah,” tambahnya.



Di tengah larangan perayaan yang bersifat hura-hura, drg Rully justru melihat tahun baru sebagai momentum untuk memperbanyak doa dan harapan yang baik. Ia mengajak masyarakat untuk mendoakan diri sendiri, keluarga, sesama, hingga para pemimpin bangsa.



“Sebagai rakyat kebanyakan, tahun baru tetap menjadi ruang harapan, meskipun tidak berlebihan. Kita bisa memanjatkannya lewat doa, cara yang paling mudah dan gratis, agar kehidupan ke depan bisa lebih baik dari saat ini,” tuturnya.



Ia juga mengingatkan pentingnya empati terhadap saudara-saudara sebangsa yang tengah tertimpa musibah di berbagai daerah.



“Kita punya saudara yang harus didoakan di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan wilayah lain yang sedang dalam kondisi mengkhawatirkan. Semoga semuanya dilindungi oleh Allah SWT, dan semoga para pemimpin negeri ini benar-benar menyayangi rakyat dan tanah airnya,” ucapnya penuh harap.



Sebagai penutup, drg Rully mengaku dirinya sejak dulu tidak pernah merayakan tahun baru dengan pesta. Baginya, ketenangan, keselamatan, dan kebersamaan jauh lebih bermakna dibandingkan euforia sesaat.



“Yang terpenting masyarakat bisa hidup tenang, tidak ada bencana, saling mendoakan, saling memberi semangat, semakin kompak, tolong-menolong, berbagi rezeki, dan janji-janji pemimpin benar-benar dipenuhi. Kesejahteraan sepenuhnya untuk rakyat Indonesia, adil dan makmur harus terwujud. Aamiin Yaa Rabbal ‘Alamiin,” pungkasnya.

Iklan