ADS

ads

iklan

,

Iklan

iklan

Film Mosul: Drama Perang dari Sudut Pandang Pejuang Lokal

16 Nov 2025, 09:57 WIB Last Updated 2025-11-16T02:58:20Z

 

Film Mosul: Drama Perang dari Sudut Pandang Pejuang Lokal

Film Mosul menjadi salah satu karya sinematik yang wajib ditonton bagi pecinta film perang yang menginginkan cerita lebih dari sekadar aksi ledakan dan tembak-menembak. Sejak menit pertama, film ini menghadirkan gambaran nyata tentang konflik Irak dari perspektif warga lokal—sebuah sudut pandang yang jarang diangkat oleh film produksi Amerika.


Sebagai film perang berbahasa Arab yang diproduseri Hollywood, Mosul menyajikan ketegangan, kegelapan, dan sisi emosional yang kuat tanpa terjebak pada glorifikasi medan perang. Ia tidak meminta penonton untuk berpihak, melainkan mengajak memahami kompleksitas hidup di tengah pendudukan ISIS yang berkepanjangan.


Awal Perjalanan Kawa: Dari Polisi Pemula ke Pejuang yang Terkikis Emosi


Cerita dimulai dari Kawa, seorang polisi muda berusia 21 tahun yang baru memasuki dunia kepolisian Irak. Kepolosannya runtuh seketika ketika ia terjebak baku tembak dengan ISIS di sebuah kafe. Kehabisan amunisi, kehilangan pamannya, dan menghadapi situasi kacau membuat hidupnya berubah drastis.


Di saat genting itulah unit SWAT Nineveh, kelompok pejuang lokal asal Mosul, datang menyelamatkan. Mereka bukan sekadar pasukan resmi—mereka adalah pribadi-pribadi yang kehilangan keluarga akibat kekejaman ISIS, dipimpin oleh Mayor Jasem yang tegas sekaligus penuh luka.


Mayor Jasem kemudian mengajak Kawa bergabung, bukan karena belas kasihan, melainkan karena SWAT Nineveh hanya menerima mereka yang memiliki alasan kuat untuk melawan. Kawa menerima tawaran tersebut tanpa mengetahui betapa brutalnya perjalanan yang menanti.


Ketegangan Internal dan Misi Misterius


Setelah bergabung, Kawa merasa seperti orang luar. Setiap pertanyaannya tentang misi tim dijawab dengan tatapan curiga atau peringatan. Tim SWAT menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka bagi kepada orang baru.


Serangan demi serangan dari ISIS menghantam perjalanan mereka. Tomahawk, salah satu anggota paling kuat mentalnya, tewas dalam serangan bom mobil. Jasem memberikan kapak Tomahawk kepada Kawa—sebuah simbol kepercayaan sekaligus beban tanggung jawab.


Namun kecurigaan makin menebal saat Hooka, anggota lainnya, menuduh Kawa memiliki hubungan dengan seorang pengkhianat. Dinamika dalam tim menjadi panas dan menciptakan ketegangan emosional yang intens.


Pengkhianatan, Konflik Antar Faksi, dan Titik Balik Kawa


Di tengah perjalanan, tim bertemu Kolonel Isfahani dari kelompok PMF yang mendapat dukungan Iran. Negosiasi berbuntut penemuan mengejutkan: Jameel, rekan Kawa, ditahan karena mengikuti perintah ISIS demi keselamatan cucunya di Amerika.


Situasinya semakin rumit, hingga Kawa mengambil langkah ekstrem—menggunakan kapak Tomahawk untuk menghabisi Jameel demi menghentikan pertikaian antar faksi. Keputusan ini menjadi titik balik yang menegaskan transformasi dirinya.


Saat ketegangan memuncak, Jasem akhirnya mengakui bahwa misi mereka sebenarnya ilegal dan tidak mendapat restu kepolisian. Namun Kawa yang sudah lelah secara emosional memilih untuk patuh tanpa ingin tahu lebih jauh.


Satu per Satu Gugur


Pertempuran tidak kunjung mereda. Youness tewas akibat tembakan salah sasaran, Razak gugur dalam duel jarak dekat, Sinan mengalami luka parah, sementara Kawa sendiri mengalami cedera hingga wajahnya rusak dan harus menutupi diri dengan balaclava.


Setiap kehilangan berdampak besar—menciptakan beban emosional yang juga dirasakan penonton.


Misi Sebenarnya Terungkap: Menyelamatkan Keluarga


Setelah melewati pertempuran berat, SWAT Nineveh akhirnya mencapai kamp ISIS. Namun tragedi kembali terjadi ketika Mayor Jasem, tanpa sadar, memicu jebakan bom saat membersihkan area. Kematian sang pemimpin membuat moral tim hancur.


Waleed kemudian mengambil alih. Mereka memasuki sebuah apartemen menggunakan kunci cadangan yang disembunyikannya. Di sana ia menemukan istrinya, Hayat, dan putrinya, Dunya, yang diculik untuk dinikahkan paksa.


Barulah Kawa menyadari: misi SWAT Nineveh bukan operasi militer reguler—melainkan upaya pribadi para anggotanya untuk menyelamatkan keluarga mereka dari cengkeraman ISIS.


Ketika mendengar bahwa putra Amir, salah satu anggota tim, berada tak jauh dari lokasi, Kawa bertanya seberapa dekat mereka. Itu menandai bahwa ia telah menjadi bagian dari keluarga kecil itu—berjuang bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan luka dan tujuan yang sama.


Film Perang yang Menghadirkan Luka, Bukan Heroisme


Mosul bukan film yang mengandalkan pidato heroik atau kemenangan megah. Yang ditampilkan adalah kehancuran mental, ketegangan moral, dan rasa kehilangan yang nyata. Film ini memperlihatkan bahwa di balik perang, ada manusia-manusia yang bertahan hidup demi hal paling sederhana: keluarga mereka.


Ditulis dan disutradarai oleh Matthew Michael Carnahan, Mosul debut di Festival Film Venesia 2019 sebelum akhirnya tayang di Netflix pada 26 November 2020.


Bagi penonton yang mencari film perang dengan kedalaman emosi, karakter kompleks, serta realita pahit konflik dunia nyata, Mosul adalah pilihan yang sangat layak ditonton.


SOURCE: KAPANLAGI.COM

Iklan