ADS

ads

,

Iklan

Prof.Furtasan Ali Yusuf Dorong Bandrong dan Bahasa Jawa Banten Masuk Kurikulum Nasional

28 Des 2025, 18:37 WIB Last Updated 2025-12-28T11:37:14Z


Cilegon, Comunitynews— Kekhawatiran akan semakin memudarnya identitas budaya lokal mendorong Anggota DPR RI Komisi X, Prof.H.Furtasan Ali Yusuf, angkat suara. Dalam sebuah kegiatan di Kota Cilegon, Minggu (28/12/2025), ia menegaskan pentingnya langkah konkret negara untuk melindungi warisan budaya Banten, khususnya pencak silat Bandrong dan Bahasa Jawa Banten.



Sebagai anggota Majelis Tinggi Dewan Pengurus Pusat Pencak Silat Bandrong Indonesia, Furtasan menilai pelestarian budaya tidak bisa lagi hanya mengandalkan komunitas atau tradisi turun-temurun. Menurutnya, intervensi kebijakan melalui dunia pendidikan menjadi kunci agar nilai-nilai lokal tetap hidup di tengah arus modernisasi.



Ia mendorong Kementerian Pendidikan agar pencak silat Bandrong tidak hanya diajarkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler, tetapi masuk ke dalam kurikulum resmi, bahkan dikembangkan menjadi program studi di perguruan tinggi.



“Mulai 2026, kita dorong agar ada standarisasi. Ini bukan sekadar wacana, tapi bentuk penyelamatan budaya. Tinggal bagaimana keseriusan kita bersama,” ujar Furtasan.



Selain seni bela diri tradisional, perhatian Furtasan juga tertuju pada Bahasa Jawa Banten yang kini kian jarang digunakan, terutama oleh generasi muda. Padahal, bahasa tersebut merupakan bagian penting dari identitas dan sejarah masyarakat Banten.



Ia mengaku prihatin melihat anak-anak muda yang semakin asing dengan bahasa ibu mereka sendiri. Kondisi ini, menurutnya, menjadi tanda bahwa pelestarian bahasa daerah membutuhkan pendekatan baru yang lebih sistematis.



“Bahasa adalah jantung budaya. Kalau tidak dijaga, perlahan akan hilang. Saya melihat sendiri, Bahasa Jawa Banten mulai ditinggalkan, dan ini sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya.



Sebagai langkah konkret, Furtasan mengusulkan agar Bahasa Jawa Banten kembali digunakan di ruang publik dan keagamaan, salah satunya melalui khutbah Jumat di masjid-masjid. Ia menilai pendekatan ini efektif karena menyentuh langsung kehidupan sosial masyarakat.



Tak berhenti di situ, ia juga mendorong perguruan tinggi di Banten untuk mengambil peran strategis. Furtasan berharap Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) sebagai kampus negeri di Banten dapat menjadi pionir dengan membuka jurusan atau program studi Bahasa Banten.



“Di Banten belum ada jurusan yang fokus pada bahasa daerah kita sendiri. Untirta harus bisa menjadi representasi agar pelestarian ini berjalan berkelanjutan,” tegasnya.



Dorongan Furtasan mencerminkan semakin kuatnya kesadaran bahwa budaya lokal membutuhkan perlindungan struktural. Tanpa keberpihakan kebijakan dan dukungan institusi pendidikan, warisan leluhur dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan sejarah—bukan praktik hidup yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Iklan