Jakarta, Comunitynews— Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa modernisasi dan penambahan alat utama sistem senjata (alutsista) bukan sekadar langkah pertahanan negara, melainkan bagian penting dari kemampuan nasional dalam merespons cepat bencana alam.
Dalam pidatonya di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12) malam, Prabowo menekankan bahwa Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire memiliki tantangan geografis yang menuntut kesiapsiagaan penuh dalam penanganan bencana.
“Bangsa kita berada di lingkaran api. Bencana alam adalah bagian dari kehidupan kita sebagai negara kepulauan. Karena itu, kita harus siap menghadapi kondisi terburuk,” ujar Prabowo.
50 Helikopter Dikerahkan ke Daerah Bencana
Prabowo menyoroti peran kekuatan udara dalam operasi kemanusiaan yang tengah berlangsung di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menurutnya, kemampuan mobilisasi udara menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat evakuasi dan distribusi bantuan.
“Kita mampu mengerahkan 50 helikopter yang sekarang bergerak di daerah musibah. Rakyat melihat negara hadir,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan dari ribuan peserta yang hadir.
Tambahan Armada Udara Mulai Didatangkan
Presiden menyebutkan bahwa pemerintah telah memulai langkah penguatan armada udara dengan mendatangkan helikopter dan pesawat angkut baru.
“Minggu ini sudah tiba lima helikopter baru. Mulai Januari tahun depan dan seterusnya, kita akan datangkan 200 helikopter ke Republik Indonesia,” ungkapnya.
Selain helikopter, Prabowo memastikan bahwa sejumlah pesawat besar untuk angkut logistik dan operasi taktis juga telah memperkuat inventaris negara.
“Beberapa bulan lalu kita datangkan lima Hercules C-130J terbaru, dan beberapa minggu lalu datang Airbus A400,” katanya.
Bencana Jadi Momentum Transformasi
Prabowo menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari pembenahan besar dalam membangun kapabilitas negara agar tidak hanya kuat di bidang pertahanan, tetapi juga tangguh dalam urusan kemanusiaan.
Menurutnya, modernisasi alutsista menjadi investasi penting untuk keselamatan warga negara ketika terjadi gempa bumi, banjir, atau bencana besar lainnya.
“Tugas terbesar negara adalah melindungi rakyatnya. Kita harus memastikan bahwa dalam keadaan apa pun, negara mampu bergerak cepat,” tutupnya.
.jpg)

