ADS

ads

,

Iklan

Kisah Perjuangan Relawan SPPG: Klotok Menyisir Laut Demi Sajikan MBG untuk 951 Anak Pulau

14 Nov 2025, 16:20 WIB Last Updated 2025-11-14T11:11:24Z
Klotok Menyisir Laut Demi Sajikan MBG untuk 951 Anak Pulau

JAKARTA,Comunitynews— Upaya menghadirkan Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi para pelajar di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, bukanlah perkara sederhana. Akses wilayah yang terpisah laut dan sungai membuat distribusi harus dilakukan dengan ekstra tenaga dan ketelitian. Namun, semangat para relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tak pernah luntur demi memastikan ratusan anak di pulau tetap memperoleh asupan bergizi setiap hari.


Kepala SPPG Aluh-Aluh Besar, Kasful Anwar, menuturkan bahwa pihaknya mengemban tanggung jawab mendistribusikan 2.138 porsi MBG untuk lebih dari 30 sekolah yang tersebar di tiga desa. Sebanyak 1.187 penerima berada di wilayah darat, sementara 951 lainnya tinggal di pulau-pulau terpisah.


“Wilayah pulau harus ditempuh lewat jalur laut kemudian sungai. Armada yang kami pakai ada dua klotok dan satu mobil,” kata Kasful, Jumat (14/11).


Begitu tiba di dermaga, empat relawan langsung bergerak membagi paket makanan ke sekolah-sekolah di Desa Aluh-Aluh Kecil dan Desa Podok. Kedua desa tersebut hanya bisa diakses lewat perairan. Setibanya di titik sandar, anak-anak biasanya sudah menunggu untuk membantu membawa paket MBG menuju sekolah.


“Jarak sekolah dengan dermaga sekitar 30 meter. Anak-anak sangat bersemangat, mereka sering ikut mengangkut makanan,” ujarnya.


Ratusan porsi makanan untuk jenjang PAUD hingga SMP di dua desa tersebut telah diproduksi sejak pukul 07.00 WITA. Usai proses pemindahan barang yang memakan waktu sekitar 30 menit, dua kapal berisi MBG bergerak menuju pulau.


Perjalanan berlangsung sekitar setengah jam, melintasi perairan laut dan kemudian menyusuri sungai. Setibanya di dermaga Aluh-Aluh Kecil dan Podok, paket MBG langsung didrop ke titik sekolah masing-masing. “Biasanya sekitar pukul 08.30 sudah sampai,” jelas Kasful.


Ia menambahkan, mayoritas anak-anak penerima MBG di wilayah pulau berasal dari keluarga petani dan nelayan. “Sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan dan petani, kondisi ekonominya menengah ke bawah,” katanya.


Program MBG di Aluh-Aluh Besar sendiri baru berjalan sekitar tiga minggu. Sejak mulai beroperasi pada 29 Oktober, distribusi awal difokuskan pada wilayah daratan. Barulah dalam dua pekan terakhir, penyaluran diperluas ke wilayah kepulauan.



“Distribusi kami lakukan bertahap. Setelah wilayah daratan, baru kemudian rute laut kami jalankan,” tutup Kasful.


Iklan