Bogor, Comunitynews— Senyum para petani di Kabupaten Bogor tampak semakin lebar setelah pemerintah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi hingga 20 persen. Kebijakan ini dinilai menjadi angin segar bagi sektor pertanian karena berdampak langsung pada efisiensi biaya dan peningkatan hasil panen.
Penurunan harga pupuk ini tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025 yang resmi berlaku sejak 22 Oktober 2025. Pupuk jenis Urea dan NPK mengalami penyesuaian harga sehingga lebih terjangkau.
Tidak hanya itu, pemerintah juga menetapkan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram melalui kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang mulai diberlakukan sejak 15 Januari 2025.
Ketua BPP Wilayah XII Kecamatan Jonggol–Sukamakmur, Jajang, mengatakan bahwa para petani sangat merasakan manfaat kebijakan tersebut.
“Saat ini petani merasa terbantu dan termotivasi. Harga pupuk turun, sementara harga gabah stabil dan tinggi. Ini kondisi yang sangat ditunggu-tunggu petani,” ujar Jajang, Selasa (26/11).
Pihaknya bersama penyuluh pertanian terus mendampingi para kelompok tani, termasuk dalam proses penebusan pupuk sesuai kuota yang tersedia di sistem e-RDKK.
Menurut Jajang, distribusi pupuk berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
“Stok aman, kios siap melayani. Petani hanya perlu membawa KTP jika datanya sudah terverifikasi di e-RDKK,” jelasnya.
Sementara itu, Endang Suryadi, petani asal Jonggol, mengakui kebijakan penurunan harga pupuk memberikan dampak signifikan terhadap biaya produksi.
“Alhamdulillah terasa sekali bedanya. Dengan biaya pupuk lebih murah, dana yang ada bisa dipakai kebutuhan lain seperti obat tanaman,” ungkapnya.
Endang juga berharap harga pupuk yang sudah turun tidak kembali mengalami kenaikan, dan harga gabah tetap stabil agar petani tidak merugi.
“Mohon harga gabah jangan turun. Kalau bisa justru naik lagi. Petani sekarang sudah merasa nyaman,” tambahnya.
Dengan ketersediaan pupuk yang memadai, harga terjangkau, dan nilai jual hasil panen yang stabil, petani kini berharap upaya swasembada pangan dapat tercapai sesuai target pemerintah pada 2026.


