ADS

ads

,

Iklan

Reforma Agraria Ubah Nasib Petani Perempuan di Blitar, Lebih Aman dan Sejahtera

22 Apr 2026, 08:07 WIB Last Updated 2026-04-22T01:07:05Z

Blitar — Program Reforma Agraria membawa perubahan nyata bagi kehidupan petani perempuan di Desa Soso, Kabupaten Blitar. Kepastian kepemilikan tanah kini menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga.


Sebelumnya, warga desa menghadapi konflik lahan berkepanjangan sejak 2012 dengan perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut. Kondisi ini membuat petani hidup dalam ketidakpastian, bahkan saat hendak bercocok tanam.


Patma (55) mengaku pernah mengalami tekanan saat memperjuangkan lahannya. Meski diliputi rasa khawatir, ia tetap bertahan demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Kalau tidak nanam, kita mau makan apa,” katanya.


Perubahan terjadi pada 2022 ketika pemerintah melalui Kementerian ATR/BPN menjalankan redistribusi tanah. Sebanyak 83,85 hektare lahan disertipikatkan dan diberikan kepada 528 penerima, termasuk Patma.


Sejak saat itu, rasa aman mulai dirasakan warga. Kepemilikan sertipikat memberikan kepastian hukum sekaligus mendorong semangat mengelola lahan secara produktif.
Hal serupa disampaikan Indra (32), yang kini lebih percaya diri dalam bertani. Menurutnya, kepastian status lahan membuat petani lebih leluasa menentukan komoditas dan merencanakan masa depan.

“Sekarang lebih percaya diri karena tanah sudah milik sendiri,” ujarnya.


Dari sisi ekonomi, hasil pertanian mengalami peningkatan. Melalui kemitraan dengan PT Syngenta Indonesia, petani memperoleh dukungan berupa bibit unggul, pendampingan teknis, hingga akses pasar.


Harga jual jagung pun meningkat, berkisar Rp8.500 hingga Rp9.000 per kilogram. Dari lahan sekitar 1.500 meter persegi, petani dapat menghasilkan hingga 1 ton jagung dengan nilai sekitar Rp9 juta, meningkat signifikan dibanding sebelumnya.


Selain bekerja di kebun, perempuan tetap menjalankan peran di rumah tangga. Meski menghadapi beban ganda, solidaritas antarwarga dan keluarga menjadi kekuatan utama dalam menjalani aktivitas sehari-hari.


Kini, perempuan Desa Soso tidak hanya berperan sebagai penopang keluarga, tetapi juga sebagai agen perubahan di sektor pertanian. Reforma Agraria menjadi langkah strategis dalam membuka akses, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat peran perempuan di pedesaan.

Iklan