ADS

ads

,

Iklan

Prabowo Tegaskan Kebebasan Kritik Harus Disertai Tanggung Jawab

6 Jan 2026, 09:47 WIB Last Updated 2026-01-06T02:47:56Z

Jakarta, ComunitynewsPresiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah tidak antikritik. Namun, ia mengingatkan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat harus dibarengi dengan tanggung jawab agar tidak berubah menjadi fitnah yang berpotensi merusak persatuan nasional.



Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam sambutannya pada Perayaan Natal Nasional di Jakarta, Senin (5/1). Di hadapan para tokoh agama dan undangan, Presiden menekankan bahwa kritik dan koreksi merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat.



Prabowo menilai kritik justru dibutuhkan untuk menjaga arah pemerintahan tetap berada dalam koridor yang benar. Meski demikian, ia menggarisbawahi bahwa penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan bertentangan dengan nilai moral, agama, dan kebangsaan.



“Kritik itu perlu. Tapi ketika berubah menjadi fitnah, itu tidak dibenarkan oleh agama apa pun,” ujarnya.



Presiden menyoroti peran media sosial yang kini menjadi ruang utama ekspresi publik. Ia mengakui media sosial memberi ruang luas bagi masyarakat untuk bersuara, namun sekaligus membuka peluang munculnya tudingan dan asumsi tanpa dasar yang jelas.



Menurutnya, arus informasi yang tidak terkendali dapat memicu prasangka, memperlebar polarisasi, dan menggerus rasa persaudaraan antarwarga bangsa.



Dalam suasana yang lebih cair, Prabowo juga menanggapi berbagai spekulasi tentang dirinya yang kerap beredar di ruang publik. Dengan nada humor, ia menyebut ada pihak-pihak yang merasa paling memahami isi pikirannya.



“Kadang saya sendiri baru tahu apa yang saya pikirkan dari podcast,” ucapnya, yang disambut tawa para hadirin.



Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa ia tidak ingin larut dalam polemik atau saling serang. Ia memilih menempuh jalan rekonsiliasi dan saling memaafkan sebagai fondasi menjaga persatuan nasional.



Ia menambahkan bahwa nilai-nilai keagamaan, termasuk ajaran tentang kasih dan pengampunan, menjadi pedoman dalam menyikapi perbedaan pendapat.



Presiden berharap kebebasan berekspresi di Indonesia dapat dimanfaatkan secara dewasa dan bertanggung jawab, sehingga kritik benar-benar berperan sebagai sarana membangun, bukan memecah belah bangsa.

Iklan