Balikpapan, Comunitynews— Pemerintah optimistis Indonesia segera memasuki era swasembada bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Mulai tahun ini, impor solar ditargetkan dihentikan seiring meningkatnya kapasitas produksi dalam negeri yang bahkan diproyeksikan mengalami surplus hingga 1,4 juta kiloliter.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa kebutuhan solar nasional saat ini berada di kisaran 38 juta kiloliter per tahun. Sebelumnya, kebutuhan tersebut masih ditopang impor sekitar 5 juta kiloliter. Namun, kondisi tersebut kini berubah seiring bertambahnya pasokan domestik.
“Produksi kita sekarang sudah mampu menggantikan impor. Bahkan setelah kebutuhan terpenuhi, masih ada kelebihan sekitar 1,4 juta kiloliter,” ujar Bahlil saat kunjungan kerja di Balikpapan, Senin (12/1).
Ia menjelaskan, surplus solar nasional didorong oleh dua faktor utama. Pertama, penerapan kebijakan mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku tahun ini. Program tersebut meningkatkan pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit, sehingga konsumsi solar berbasis fosil dapat ditekan secara signifikan.
Faktor kedua adalah beroperasinya hasil pengembangan dan modernisasi Kilang Balikpapan. Kilang ini diproyeksikan mampu menghasilkan hingga 1,8 juta kiloliter solar per tahun dan memberikan dampak positif berupa penghematan devisa negara yang mencapai Rp14,9 triliun.
“Ini adalah bagian dari arahan Presiden agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor energi. Kita sudah mulai memasuki fase kemandirian,” tegas Bahlil.
Meski demikian, ia mengakui bahwa impor masih dilakukan secara terbatas untuk solar dengan spesifikasi cetane number (CN) 51 yang dibutuhkan sektor industri. Volume impor jenis ini diperkirakan sekitar 600 ribu kiloliter per tahun.
“Untuk CN 51 memang masih impor, tapi jumlahnya kecil. Saya sudah meminta Pertamina agar ke depan spesifikasi ini bisa diproduksi di dalam negeri,” pungkasnya.


