Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Ossy Dermawan, meminta Pemerintah Kabupaten Tanah Laut memperkuat peran Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) sebagai sarana koordinasi dan penyelesaian berbagai persoalan pertanahan di daerah.
Hal tersebut disampaikan Ossy saat melakukan pertemuan dengan jajaran Pemerintah Kabupaten Tanah Laut di Balairung Tuntung Pandang, Minggu (31/5/2026).
Dalam keterangannya, Ossy menegaskan bahwa kepala daerah memiliki posisi strategis dalam penyelesaian masalah pertanahan. Selain memiliki kewenangan di daerah, bupati juga berperan sebagai Ketua GTRA kabupaten sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2023 tentang Percepatan Pelaksanaan Reforma Agraria.
Ia menjelaskan, GTRA dibentuk oleh Kementerian ATR/BPN untuk menjadi forum bersama yang melibatkan berbagai pihak dalam mencari penyelesaian atas persoalan pertanahan. Forum tersebut melibatkan pemerintah daerah, kejaksaan, kepolisian, TNI, instansi terkait, serta unsur masyarakat.
Menurut Ossy, penyelesaian sengketa melalui dialog dan musyawarah perlu lebih dikedepankan dibandingkan proses hukum di pengadilan yang kerap memerlukan waktu panjang.
“Jika persoalan yang dihadapi sudah bersifat sistemik dan struktural, pemerintah daerah dapat memanfaatkan forum GTRA sebagai mekanisme penyelesaian. Semua pihak yang berkepentingan dapat duduk bersama untuk mencari solusi yang terbaik,” ujarnya.
Dalam agenda tersebut, Ossy juga menyerahkan sertipikat tanah kepada lima orang penerima secara simbolis. Penyerahan itu merupakan bagian dari penerbitan 111 sertipikat oleh Kementerian ATR/BPN melalui Kantor Pertanahan Kabupaten Tanah Laut.
Rinciannya, sebanyak 106 sertipikat berupa Sertipikat Hak Pakai atas nama Pemerintah Kabupaten Tanah Laut dan lima sertipikat lainnya merupakan hak atas tanah lintas sektor.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Tanah Laut Rahmat Trianto, Wakil Bupati Zazuli, unsur Forkopimda, serta sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian ATR/BPN, termasuk Ajie Arifuddin, Hendri Teja, Ahmad Suhaimi, dan Isa Widyatmoko.



