Balikpapan, Comunitynews— Kilang Terintegrasi Balikpapan hasil proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) resmi beroperasi penuh. Pemerintah menilai beroperasinya kilang strategis ini menjadi tonggak penting dalam upaya menekan impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, modernisasi kilang dengan nilai investasi sekitar USD 7,4 miliar atau setara Rp123 triliun tersebut memberikan dampak langsung terhadap penghematan devisa negara. Menurutnya, efisiensi impor energi yang dihasilkan diperkirakan melampaui Rp60 triliun setiap tahun.
"Ini bukan sekadar proyek kilang, tetapi langkah nyata mengurangi ketergantungan kita pada impor BBM,” ujar Bahlil saat meninjau fasilitas kilang di Balikpapan, Senin (12/1/2025).
Ia mengungkapkan, data Pertamina menunjukkan pengoperasian RDMP Balikpapan mampu memangkas nilai impor energi hingga sekitar Rp68 triliun per tahun. Penghematan tersebut berasal dari berkurangnya kebutuhan impor berbagai produk energi, mulai dari bensin, solar, avtur, hingga LPG.
Dari sisi kapasitas, Kilang Balikpapan kini mampu mengolah minyak mentah hingga 360 ribu barel per hari, meningkat signifikan dibandingkan sebelum modernisasi yang hanya mencapai 260 ribu barel per hari. Tambahan kapasitas sekitar 100 ribu barel per hari ini dinilai krusial dalam menjaga pasokan BBM nasional.
“Kapasitas pengolahan yang lebih besar membuat kita lebih mandiri dan tidak mudah terganggu oleh fluktuasi pasokan global,” jelas Bahlil.
Tak hanya meningkatkan volume produksi, kualitas BBM yang dihasilkan juga mengalami peningkatan. Produk BBM dari kilang ini telah memenuhi standar emisi Euro 5, yang lebih ramah lingkungan dan sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menekan emisi karbon.
Ke depan, RDMP Balikpapan ditargetkan menghasilkan sekitar 5,8 juta kiloliter bensin dan 1,8 juta kiloliter solar per tahun. Pemerintah pun optimistis impor bensin dapat ditekan secara bertahap, sementara impor solar ditargetkan dapat dihentikan sepenuhnya.
“Sesuai arahan Presiden, kita dorong kemandirian energi. Produksi dalam negeri harus menjadi tulang punggung pemenuhan BBM nasional,” pungkasnya.


